Monday, September 14th, 2009 | Author: rudis

Judul di atas mungkin membuat pembaca bertanya-tanya apa maksudnya. Pohon dan becak, apa hubungan atau korelasinya? Kalau pohon rindang tempat berteduh abang becak, bisa jadi. Tetapi karena justru mengindari pohon, saya “dimakan” becak. Kok bisa?
Beberapa hari terakhir ini kita dikejutkan oleh beberapa berita tentang pohon yang tumbang di tengah jalan. Bahkan tiga hari berturut-turut yang kesemuanya meminta korban kendaraan. Ironisnya, korban bukanlah orang-orang yang sedang berdekatan dengan proyek pengeprasan pohon atau tanaman oleh dinas pertamanan kota. Namun kebanyakan korban adalah orang lewat yang lagi apes. Bahkan sedang antri di lampu merahpun tak luput dari teror pohon tumbang. Seperti yang terjadi di jalan Darmo Minggu siang kemarin. Seorang pengemudi Inova hijau harus menelan pahit kenyataan bahwa tiba-tiba mobilnya tertimpa pohon tumbang dikala ia sedang antri lampu merah.
Apes! Mungkin hanya itu yang bisa diucapkan pemilik kendaraan. Tetapi masalahnya adalah, apakah keapesan ini harus terus didera oleh warga Surabaya setiap hari? Tentu saja tidak kan? Lalu semua salah siapa? Pada saat seperti ini rasanya kurang etis jika kita mencari-cari kambing hitamnya. Yang paling penting adalah dicari akar permasalahannya. Persoalan pohon tumbang ini sudah ada tanda-tandanya ketika bulan lalu tepat di depan saya, pohon tumbang dan menimpa Inova yang sedang parkir di sebuah hotel kawasan Gunung Sari.  Pada saat itu aroma kurang sedap bahwa bakal ada teror pohon tumbang bakal terjadi. Ini tak lepas dari musim kemarau dan kecepatan angin yang mampu menghempaskan apa saja yang diterjangnya.
Dan akhirnya “bencana” dan teror itu pun datang juga. Tak pelak beberapa hari ini kita disibukkan oleh berita dan keributan warga kota tentang pohon tumbang. Begitu juga dengan yang kami alami. Saking pobi-nya dengan pohon besar kami harus menghindari jalan utama  yang banyak tumbuh pohon-pohon besar. Kalaupun toh terpaksa harus  lewat, kita lebih memilih jalur tengah yang relative agak jauh dari jangkauan pohon kalau sampai apes tertimpa pohon tumbang.
Ketegangan pun menyeruak di dalam kendaraan. Suasana weekend menjadi sangat tidak nyaman. Bahkan ketika parker pun kami harus mencari lahan yang luas dan merelakan kendaraan kami harus bermandikan panasnya matahari yang begitu menyengatnya. Suatu perubahan perilaku yang sangat revolusioner bagi kami dan tentu s aja sebagian warga Surabaya. Ini adalah titik balik dari sebuah perilaku di mana sesuatu yang dulu diidamkannya, parker di tempat yang rindang, kini menjadi momok yang siap menerkam siapa saja yang berani mendekat pohon rindang di kota ini.
Di jalur-jalur utama di tengah kota, orang berebut untuk menggunakan jalur tengah yang relative lebih aman dari terpaan pohon tumbang. Semua mengerucut, hingga kita tak sadar bahwa perilaku pobi ini sebenarnya sudah sedemikian hebatnya menyerang warga kota. Memasuki daerah utara kota ini, suasana kembali normal karena sudah tidak banyak pohon-pohon di daerah sini. Perilaku berkendara normal kembali, semua jalur dipadati oleh kendaraan yang menuju satu titik. Karena di daerah ini ada  pusat perbelanjaan yang setiap harinya selalu dipadati pengunjung. Apalagi menjelang lebaran, hamper semua orang berebut untuk membelanjakan uangnya.
Namun tiba-tiba terdengar suara benturan keras. Brak! Bukan pohon tumbang, bukan pula kereta menghantam pengendara motor. Lalu apa? Ehem,… rupanya abang becak menyambar bemper kiri kendaraan kami. Apes! Begitulah kira-kira apa yang ada dalam benakku saat itu. Mau lebaran, duit mepet, terancam ganti becak orang nih. Matanya mendelik tanda memberi ancaman. Kami pun berusaha berkompromi dan bersahabat. Namun tanpa ada sepatah katapun terucap di bibir abang becak itu. Ia pun pergi meninggalkan kami. Syukurlah, ia tidak melanjutkan untuk menebar ancaman kepada kami. Namun yang menjadi perhatian kami adalah nasib bemper kami.
Bemper itupun bocel-bocel dan hamper copot dari rangkanya. Duh, ujian apa lagi ini. Ah,… bulan puasa bulan penuh ujian. Sabar,… sabar,…

Monday, April 06th, 2009 | Author: rudis

Ehem,… libur bagi sebagian pekerja adalah impian. Biarpun kerja 5 hari, pas weekend datang biasanya malah dibuat istirahat sebanyak mungkin atau malah tenggelam dengan pekerjaan rumah yang rutin.

namun setelah sekian bulan melakukan hal-hal rutin seperti itu, sudah saatnya memanjakan diri bersama keluarga keluar rumah. Tetapi ujung-ujungnya masih saja bertema istirahat, lepas dari segala beban dan masalah. Seperti biasa, untuk mewujudkannya kita check-in di Hotel. Namun kali ini bukan Bintang 5 yang dituju, selain krisis, kita ingin menikmati suaasna lain. Konon bintang 4 tak kalah menariknya. Ehem,… mana ya kira-kira. Majapahit? Jelas tidak masuk hitungan, selain dia punya 5 bintang, kita pengin turun kelas satu grade. Hyatt, hidangan tak diragukan lagi, dia paling jago selain Majapahit. Tapi room terlalu kuno. No Way! SPH? Bagus bahkan, dia boleh bersanding dengan ShangriLa dalam hal-hal tertentu. Tapi kali ini gak dulu deh. Masih di atas USD 100. Puter-puter akhirnya ketemu yang modern dikit tapi dia ada kelas untuk low entry.

Hotel yang berlokasi di daerah ngagel ini punya Bintang 4. Menawarkan berbagai fasilitas dengan harga yang sangat bersahabat. Dengan hanya USD 40 sudah dapet room yang lumayan bagus. Meski kali ini ngga dapet view yang langsung menghadap pool. But, overall quite good.

Masuk room dan periksa sana sini, lumayan. Paling tidak apa yang menjadi perlengkapan standar Bintang 5 hampir dia miliki semua. Yang membedakan hanya masalah service saja.

OK, kali ini cuaca bersahabat meski pas dateng disambut gerimis. Sebab kalau cerah, bisa memanfaatkan pool-nya untuk sekedar kecipak-kecibung. Ah,… bodo amat perkara bisa renang atau ga, persetan. Itu pool mempunyai daya magnet luar biasa. gak tahan pengin nyemplung, tapi uh,… siang-siang renang malah keliatan tolol. hahahaha…

Tahan,… tahan,… akhirnya menenggelamkan diri di kamar untuk nonton TV kabel. Ehem,.. kalo cuman nonton doang mending di rumah aja napa?

Turun Ah… looked arround sambil sesekali duduk di pinggir pool. Ah,.. keliatan seperti nunggu “tamu”. Kampret! Ke lobi, baca koran, belagak orang penting dengan bacaan Jakarta Post. Busyet…! Pusing gw dibuatnya. Hahaha…

However, suddenly I recognized somebody had passed in front of me. Bukannya dia di presenter TV gendeng itu? Dengan siapa lagi dia? Menggandeng cowok tinggi besar, cakep juga sih. Damn…! Rupanya dia player parah… hahaha… Abis keluar penjara gak kapok juga rupanya. Ah persetan dengannya, mau kimpoi dengan 100 cowo ga penting, emang dia player.

…….

7.30am

Turun lewat tangga menuju Jenggala buat sarapan. Pengin tahu apa menu hari ini. Duduk di depat jendela dengan view pool memang pilihan yang tepat. Sambil menikmati sarapan, kita bisa mengamati tingkah beberapa orang di pool. Bahkan sepagi ini, sudah ada wanita yang “bekerja” melayani bule di kolam. Meski cuman nemani renang doang, tapi dari bahasa tubuhnya keliatan kalau wanita ini sedang “bekerja”.

Appetizer kali ini lumayan lengkap. tinggal pilih, American breakfast, Oriental atau pure Indonesian. Well, kalo Indonesian mah, istri gw juga paling pinter bikin. Apalagi kalo oriental… Coba laen ah… Akhirnya sarapan gaya negeri Paman Sam. Sereal, otmeal, dituangin susu hangat dengan segelas Jeruk dingin. Roti pancake dengan taburan coklat dan dituangin sedikit madu menambah kesan tersendiri. Damn…! This is real one.

Meski ragam menu yang masih terbatas, taste-nya tak kalah dengan yang satu grade di atasnya. Overall, makanan yang disajikan mempunyai taste yang cukup nendang. Kecuali masakan orientalnya, ehem,… masih jauh dari taste kelas bintang. Masih jago istri gw kalo bikin tumisan…

9.15 am

Terpaksa check out lebih awal, karena ada urusan yang harus diselesein di tempat laen. Masalah kerjaan juga, cuman ada 4 tempat yang berjauhan letaknya dan harus didatengin dalam rentang waktu 3 jam.  Lariiiii,…… kejar setoran…

1.15PM

Serangan udara panas hari ini memaksa metabolisme bekerja begitu cepat. Dan pada saat ini seluruh kalori telah terbakar habis. BUtuh asupan lagi. Karena hari ini adalah holiday work, maka asupan yang masuk pun harus cukup untuk memenuhi kebutuhan kalori.

Ehem,… sekali lagi naik kelas. Kalau biasanya kita cukup makan siomay di pinggir Mall. Sekarang pengin beda. Dim Sum di Lung Yuan Chinese Restaurant at Sheraton menjadi pilihan. Sekali-kali boleh dong,… Disajikan dengan bahan 75% udang, kita mencoba untuk menikmati sepotong demi sepotong bongkahan makanan itu. Clossing dengan tumis buncis dan segelas ice jeruk. This is the good one.

Nice holiday.

Category: Family  | Tags:  | Leave a Comment